Teror Buku di Tanah Batak

Buku Tuanku Rao, Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak karya Mangaraja Onggang Parlindungan maupun Greget Tuanku Rao karya Basyral Hamidy Harahap, muncul pada tahun 2007 dan mengundang kontroversi. Kedua buku itu sama-sama berangkat dari sejarah Islam di Tanah Batak hasil konstruksi colonial dan saling melengkapi antara satu dengan lainnya.

Sumber penulisan kedua buku itu berasal dari data-data colonial yang dikumpul di Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-enVolkenkunde (KITLV), tempat dimana Basyral Hamidy Harahap bekerja sepanjang hidupnya. Sebagian besar fakta yang dikumpulkan lembaga ini berasal dari zaman Residen Vortsman, sedangkan residen yang dipercaya Onggang sebagai ahli Batak ini mendapat data dari zaman Asisten Residen Godon.

Karena itu, mempercayai isi Tuanku Rao, Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak maupun Greget Tuanku Rao, sama dengan membiarkan diri tetap menjadi bangsa yang dijajah Belanda. Fakta-fakta sejarah yang dibuat kolonial tentang Islam di Tanah Batak, sangat politis demi mempermudah Belanda menancapkan kekuasaanya di Tanah Batak. Proses penancapan kekuasaan colonial mendapat tantangan luar biasa dari masyarakat Islam terutama di Tapanuli wilayah Selatan, sehingga kekuatan Islam mesti dipatahkan dengan menyebarkan citra buruk betapa Islam melalui potret Paderi adalah agama yang menghalalkan kekejaman.

Sebagai bukti, nuansa politik sangat kuat dalam buku Mangaraja Onggang Parlindungan, dimana tokoh Pongkinangolngolan diberi marga Sinambela. Bukan tanpa alasan pemberian marga Sinambela, karena marga itu identik dengan trah Raja Sisingamangaraja, yang pada masa penulisan buku sekitar 1920-an hingga 1930-an sangat diakui sebagai leluhur masyarakat Batak. Tapi, bagi masyarakat yang tinggal di Tapanuli wilayah Selatan, kedudukan Sisingamangaraja tidaklah sepenting seperti pandangan masyarakat yang tinggal di Tapanuli wilayah Utara.

Faktor inilah yang melahirkan pro-kontra terhadap identitas kebatakan (habatahon) yang berlangsung dengan tajam antara mereka yang mengaku diri sebagai Batak (diwakili terutama oleh orang-orang Toba) dengan mereka yang menolak disebut Batak (diwakili oleh orang-orang Mandailing). Pro-kontra ini menurut Lance Castles (2001) memuncak dalam perdebatan sengit berkaitan dengan rencana pemerintah membentuk satu groupsgemeenschap ‘komunitas kelompok’ untuk wilayah Keresidenan Tapanuli yang berpusat di Sibolga pada tahun 1930-an. Tapanuli Selatan terbelah: Batak Angkola (Angkola, Sipirok, dan Padanglawas) yang dominan beragama Islam mengaku sebagai orang Batak dan menolak mengikuti Mandailing yang tidak pernah mau mengaku sebagai orang Batak.

Karena itu, buku Mangaraja Onggang Parlindungan kemudian mencitrakan Batak Angkola yang merupakan penganut agama Islam sebagai Islam yang bertentangan dengan agama kaum Paderi, sehingga mudah dihancurkan oleh para pejuang Paderi. Nilai-nilai ke-Islam-an masyarakat Batak Angkola dinilai sangat kendur, sehingga masyarakatnya hidup lebih mengutamakan nilai-nilai warisan budaya ketimbang nilai-nilai agama, yang sangat streotipe dengan masyarakat kuno penganut kebudayaan parmalim atau sipelebegu. Karena itu, masyarakat Islam Batak Angkola menjadi musuh bagi pejuang Paderi, yang dianggap layak untuk dihancurkan.

Pongkinangolngolan Sinambela, yang merupakan representasi Batak Toba, kemudian menjadi Tuanku Rao, dipergunakan Mangaraja Onggang Parlidungan sebagai simbol anti-Batak Angkola. Ada semangat politik mengadu-domba Batak Toba dengan Batak Angkola, yang sudah barang tentu akan menguntungkan posisi masyarakat Mandailing.

Kontruksi Kolonial

Streotipe awal Hindia Belanda bahwa masyarakat Batak Angkola sebagai penganut animisme (parmalim atau pelebegu atau percaya pada roh) karena sejumlah mitos seram tentang “orang makan orang” terlanjur dipercaya terutama karena beberapa penginjil Belanda yang pergi ke wilayah pedalaman di Sibolga dikabarkan meninggal dengan cara yang menyedihkan, gugur dengan sendirinya. Tetapi, laporan Dr. Junghuhn, seorang antropolog yang dikirim dengan brilian menyebut betapa tinggi peradaban masyarakat Batak Angkola, karena mereka punya apa yang disebut bahasa dan aksara, tak dipercaya begitu saja oleh Hindia Belanda.

Laporan itu pun membuat banyak hal yang tak terjawab selama ini, terutama tentang pejuang-pejuang Paderi yang raib dan tidak bisa ditemukan setiap kali lari ke arah Utara (Tapanuli Selatan) dalam drama-drama pengejaran. Bahwa mereka, para pejuang Paderi yang terdesak dan lintang-pukang setelah Tuanku Imam Bonjol dapat ditaklukkan, hidup berdampingan dengan komunitas masyarakat adat Batak yang memiliki budaya tinggi. Komunitas adat ini, dalam logika berpikir kaum antropolog, memiliki struktur social dalam sistem budayanya. Para antropolog acap menganggap struktur sosial adalah satu-satunya perhatian utama dalam antropologi, karena struktur social itu terbentuk dari sistem sosial dan kebudayaan yang merupakan manifestasi berbagai kegiatan manusia pada tingkat kenyataan sosial.

Tetapi Pemerintah Hindia Belanda tetap meyakini asumsi-asumsi awal tentang masyarakat adat Batak Angkola yang tinggal di pedalaman sebagai masyarakat terbelakang dan tidak memiliki peradaban. Sebab itu, Hindia Belanda berkeyakinan kehidupan mereka mesti diselamatkan dan dicerahkan dengan mengabarkan injil. Sebuah simpul yang sangat keliru, karena pada dekade 1800-an—bersamaan dengan terbitnya rencana Hindia Belanda untuk mengirimkan para penginjil ke Tapanuli Selatan– Islam telah lebih dahulu dianut masyarakat Batak Angkola, yang dibawa dengan sangat bersahaja oleh Tuan-Tuan Syeikh dari Kesultanan Asahan dan Kesultanan Langkat. Mereka datang sebagai sahabat masyarakat dan mengajari cara merenungkan eksistensi hidup dan kehidupan manusia lewat religiusitas ajaran Islam dengan pendekatan kultural yang kemudian melahirkan idiom “adat do ugari” (adat sama dengan agama) dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Tuan-Tuan Syeikh dari Kesultanan Asahan dan Kesultanan Langkat kemudian membawa pemuda-pemuda Batak Angkola untuk mengikuti pendidikan-pendidikan agama Islam di Tanjung Balai, sebuah kota pelabuhan yang pada zaman itu juga pusat pendidikan agama Islam yang ramai.

Syeikh Sulayman Al-Kholidy, anak Ja Pagar, seorang perajin pande besi di Sipirok, salah seorang dari pemuda-pemuda yang dibawa belajar agama Islam ke Kesultanan Asahan di Tanjung Balai. Setamat pendidikan, Syeikh Sulayman Al-Kholidy beserta pemuda lainnya melanjutkan pendidikan ke Mekkah, kemudian kembali dan menjadi penyebar agama Islam sebagaimana pendahulu mereka melakukannya dengan pendekatan kultural. Syeikh Sulayman Al-Kholidy kini lebih dikenal sebagai syeikh dari Hutapungkut, karena di daerah ini ayahnya, Ja Pagar, menghabiskan masa tuanya. Di daerah ini pula Syeikh Sulayman Al-Kholidy dikenal sebagai tokoh pembaharu sosial dengan ajaran-ajaran tarekat. Sampai saat ini, Tuan Syeikh ini lebih diingat sebagai tokoh utama tarekat naqsabandiyah di Tapanuli Selatan.

Perkembangan Islam yang begitu pesat di lingkungan komunitas adat Batak Angkola sebetulnya sudah disinggung Dr. Junghuhn dalam laporan penelitiannya. Tetapi Hindia Belanda tidak percaya Islam dapat tumbuh begitu leluasa dan pesat, karena pengalaman selama bertahun-tahun menduduki Sumatra Barat mengajarkan bahwa Islam menyebar dari pejuang-pejuang Paderi yang diburu dan lari ke wilayah Utara (Tapanuli Selatan) diyakini mendapat penolakan dari masyarakat setempat. Sebab, Islam yang dibawa pejuang-pejuang Paderi bukanlah Islam yang toleran, tetapi Islam yang frontal dan penuh kekerasan, yang memasak siapa saja masuk Islam dengan jalan pedang. Inilah mitos yang dibangun oleh Hindia Belanda untuk mendeskriditkan pejuang-pejuang Paderi agar tidak diterima masyarakat Tapanuli Selatan sehingga mereka dimusuhi dan akhirnya kembali ke Sumatra Barat.

Sejarah kekejaman pejuang paderi dikonstruksi Hindia Belanda yang kemudian tidak lagi mengendap sebagai mitos dalam diri masyarakat Batak Angkola, melainkan sesuatu yang dinilai sangat nyata. Sejarah hasil konstruksi Hindia Belanda inilah yang melatarbelakangi Mangaraja Onggang Parlindungan menciptakan tokoh fiktif bernama Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao. Dalam sebuah roman yang kontroversial dan sangat subjektif dengan judul Tuanku Rao, Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak diterbitkan oleh Penerbit Tanjung Pengharapan pada 1964. Hamkah, budayawan dan ulama besar Sumatra Barat, sangat tersingung dengan buku yang dinilai merusak sejarah gemilang para pejuang Paderi seolah-olah nilai-nilai Islam yang meresap ke diri mereka bukanlah agama yang mengajarkan “’amar mahruf nahi munkar”.

Mitos tentang kekejaman pejuang Paderi sebetulnya tak mempengaruhi tingkat penerimaan masyarakat Batak Angkola. Bahkan, di lingkungan komunitas adat Batak Mandailing, ajaran Islam yang dibawa para pejuang Paderi meninggalkan warna yang khas, dimana masyarakat yang menganut Islam kemudian memandang bahwa hal-hal berbau tradisi pantas untuk ditinggalkan karena bertentangan dengan ajaran-ajaran agama Islam. Salah satu ekspresi budaya yang kemudian punah dari kehidupan masyarakat Batak Mandailing adalah Tor-Tor Sirama. Tor-tor atau tarian ini hanya dilakukan untuk menghadapi perang antarsuku sebagai salah satu upacara memangil roh leluhur agar “merasuki” orang-orang yang hendak berperang sehingga mereka memiliki keberanian dan kekuatan mistik guna menghadapi musuh. Tor-tor yang biasanya diiringi dengan tetabuhan gendang (gondang) harus dilakukan oleh seorang pemuka adat (raja) atau datu (dukun) dimana yang bersangkutan mengawali tarian dengan meminum minuman keras (tuak) dari garigit (tabung bambu) yang diikatkan ke pinggangnya. Kondisi dalam keadaan mabuk atau tidak sadar diyakini membuat tubuh si penari (panortor) akan menjadi kosong sehinga roh leluhur lebih mudah merasukinya. Dalam keadaan tak sadar (tras), si penari akan bergerak memimpin peperangan.

Bagi masyarakat Batak Angkola yang sudah lebih dahulu hidup dengan ajaran Islam yang berbasis kebudayaan lewat idiom “adat do ugari” (adat sama dengan budaya), sulit menerima ajaran Islam yang dibawa pejuang-pejuang Paderi. Banyak peneliti sejarah penyebaran Islam yang menyimpulkan bahwa ajaran Islam dari pejuang Paderi tidak pernah sampai ke lingkungan masyarakat adat Batak Angkola, karena mereka sangat puas dengan penerimaan masyarakat adat Batak Mandailing sehingga mencurahkan seluruh perhatian untuk membangun Islam di kawasan tersebut. Islam di lingkungan masyarakat Batak Angkola berkembang pesat akibat murid-murid yang setamat pendidikan agama di Kesultanan Asahan, pulang ke lingkungannya masing-masing dan menyebarkan agama Islam dengan semangat penuh persaudaraan.

Perkembangan Islam yang begitu pesat di lingkungan masyarakat Batak Angkola bukan cuma membuat Islam sebagai agama menjadi dominan dianut oleh masyarakat, tetapi juga nilai-nilai agama samawi itu meresap dalam kehidupan kebudayaan masyarakat. Nilai-nilai budaya dan nilai-nilai agama berjalan berdampingan dan saling melengkapi, sehingga Islam membawa sebuah kemoderenan bagi cara berpikir masyarakat.

July 19, 2008 at 8:06 pm Leave a comment

Marlojong

Oleh Prof. H. Ahmad Samin Siregar
Guru Besar Fak. Sastra USU

Masyarakat Angkola bermukim di daerah Tapanuli Selatan yaitu di Sipirok, Padangsidempuan, Batangtoru, dan sekitarnya. Masyarakat Angkola dahulunya berasal dari Kerajaan Batak, diperkirakan berdiri pada 1305 di Kampung Sianjur Mula-mula, Pusuk Buhit, Danau Toba. Sejak saat itu, penduduknya mempunyai sistem kekerabatan yang disebut dengan Dalihan na Tolu (dalihan ‘tungku’, na ‘yang’,tolu ‘tiga’) yang berarti ‘tungku yang tiga’.


Sistem kekerabatan ini mempunyai tiga unsur dasar yang pada masyarakat Angkola terdiri atas: 1) kahanggi yaitu keluarga laki-laki dari garis keturunan orang tua laki-laki, 2) anak boru yaitu keluarga laki-laki dari suami adik/kakak perempuan yang sudah kawin, dan 3) mora yaitu keluarga laki-laki dari saudara isteri. Ketiga unsur ini memegang peranan penting dalam lingkungan kekelurgaan masyarakat Angkola. Tutur sapa menjadi lancar kalau ketiga unsur ini jelas keberadaannya. Ketiga unsur ini saling memerlukan dan berfungsi sesuai dengan kedudukannya.

Rumpun Batak ini terdiri atas Toba, Angkola, Mandailing, Karo, Simalungun, dan PakpakDairi.
Pada masyarakat Angkola, jaringan kekerabatan itu muncul karena adanya perkawinan, termasuk perkawinan marlojong ‘kawin lari’. Bentuk perkawinan yang seperti ini sering ditemukan di kampung (bona bulu) dan di perkotaan yang merupakan tempat tinggal di perantauan. Pada garis besarnya, perkawinan menurut masyarakat Angkola dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
1) sepengetahuan keluarga yang disebut dengan istilah dipabuat
2) perkawinan tanpa persetujuan orang tua yang disebut dengan marlojong. Masing-masing kedua cara ini ada aturan, tata cara, dan tata tertibnya yang harus selalu dipa-tuhi oleh setiap orang Angkola.

Kedua bentuk perkawinan itu tergambar lewat pantun Ang-kola berikut ini:

Aha na tubu di lambung ni suhat
Ulang baen margonjong-gonjong
Adong na marbagas dipabuat
Dung i muse adong na marlojong

Perbuatan marlojong ‘kawin lari’ pada masyarakat Angkola merupakan satu kebiasaan apabila perkawinan yang umum tidak dapat dilakukan. Untuk itu, perlu diketahui dan dipahami dengan baik perkawinan menurut adat Dalihan na Tolu ini di daerah Angkola. Tulisan ini memberikan penjelasan untuk lebih mengenal perkawinan marlojong ‘kawin lari’, salah satu cara perkawinan pada masyarakat Angkola. Jadi, perkawinan marlojong ini merupakan jalan keluar yang akan ditempuh oleh sepasang muda-mudi Angkola apabila mereka memperoleh kesulitan dan kendala yang tidak dapat diselesaikan.

Untuk itu, penyelesaian masalah dapat dilakukan melalui mufakat seperti kata pantun Angkola berikut ini:

Mago pahat mago uhuran
Di toru ni ragi-ragi
Mago adat tulus aturan
Anggo dung mardomu tahi

Pengertian “Kawin Lari”

Istilah “kawin lari” dalam masyarakat Angkola disebut dengan marlojong. Berdasarkan etimologinya, kata marlojong berasal dari awalan mar yang berarti ‘ber’ lalu melekat pada kata lojong yang berarti ‘lari’. Jadi, kata marlojong berarti ‘berlari’. Kemudian kata marlojong berkembang artinya menjadi ‘kawin lari’. Menurut masyarakat Angkola, marlojong ‘kawin lari’ ini merupakan satu perkawinan yang dapat diterima dalam adat istiadat. Perkawinan marlojong ini dilaksanakan tanpa
sepengetahuan/persetujuan orang tua perempuan. Ada juga yang menyebut marlojong ini dengan dua istilah lain yaitu mambaen rohana dan marlojong takko-takko mata. Istilah mambaen rohana terdiri atas dua kata. Pertama, kata mambaen yang berasal dari kata baen yang berarti ‘buat’ dengan mendapat awalan mam yang berarti ‘ber’. Kedua, kata rohana pula yang berasal dari kata roha yang berarti ‘hati’ dan akhiran na yang berarti ‘–nya’. Jadi, ungkapan mambaen rohana berarti ‘berbuat hatinya’ yang mengandung pengertian ‘menurutkan kata hatinya’. Istilah marlojong takko-takko mata pula berasal dari kata marlojong ‘berlari’, takko-takko yang berarti ‘curi-curi’ dan mata yang juga berarti ‘mata’. Sehingga istilah marlojong takko-takko mata ini berarti ‘berlari curi-curi mata’. Kemudian dalam perkembangannya, arti istilah marlojong takko-takko mata ini berubah menjadi ‘mencuri, tetapi dilihat/diketahui’.

Maksudnya, marlojong ‘kawin lari’ seperti ini disetujui sebagian keluarga dan sebagian lagi kurang menyetujuinya. Perbuatan marlojong ‘kawin lari’ ini dilakukan oleh seorang pemuda, yang disebut dengan bayo, dengan membawa seorang anak gadis, yang disebut dengan boru, ke rumah orang tua/famili pihak laki-laki tanpa diketahui oleh orang tua perempuan. Secara umum, orang tua pihak perempuan kurang menyetujui perkawinan seperti ini karena adanya perbedaan status sosial. Namun marlojong ‘kawin lari’ ini dapat juga terjadi karena melangkahi kakak yang belum kawin yang bertentangan dengan adat istiadat.

Dalam hal ini, pantun Angkola berkata, /Diboan dope eme sitarolo/Na dijomurkon di ari parudan/Adat ni ompunta na parjolo/I ma hita paobanoban/ yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah, /Dibawa padi sitarolo pula/Yang dijemur di musim hujan/Adat moyang dahulu kala/Itulah yang jmenjadi pedoman/. Jadi, perkawinan sebaiknya berpedoman pada adat yang ada. Sedangkan, marlojong ‘kawin lari’ ini hanya dilakukan saat muda-mudi itu dalam keadaan terdesak dan “darurat” saja.

Seorang anak gadis yang sudah dewasa dalam masyarakat Angkola pantas untuk dikawinkan. Pantun yang menggambarkan hal itu tampak pada,/Talduskon ma giring-giring/Laho mamasukkon golang-golang/Tinggalkon ma inang adat na bujing/Madung jujung adat matobang/ yang artinya adalah, /Tanggalkan gelang tangan manis/Saat masuk gelang biasa/Tinggalkan kebiasan anak gadis/Sudah sampai ke masa dewasa/. Untuk itu, ada dua cara perkawinan (pabagas boru) menurut adat orang Angkola. Pertama, disebut dengan dipalakka sian tangga jolo yang artinya ‘diberangkatkan dari tangga depan’.

Maksudnya, perkawinan ini dilakukan dengan persetujuan orang tua kedua belah pihak. Perkawinan seperti ini disebut juga dengan dipabuat ‘diambilkan’. Kedua, disebut dengan marlojong ‘kawin lari’. Cara ini dilakukan dengan berangkat dari tangga belakang tempat tinggal anak gadis yang di masyarakat Angkola disebut dengan kehe sian tangga pudi yang berarti ‘pergi melalui tangga belakang’. Pengertian sepenuhnya ungkapan ini adalah ‘pergi kawin dengan kemauan sendiri tanpa izin orang tua’.

Kalau seorang anak gadis marlojong dengan seorang pemuda, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:
(1). Memberi tanda abit partading atau abit partinggal ‘kain pertinggal’. Peralatan yang dipakai adalah kain sarung bermotif kotak-kotak, berwarna hitam, dan di bawah tempat tidur. Tanda ini disebut juga dengan na balun di amak ‘yang bergulung di tikar’.
(2). Membuat tanda patobang roha ‘menuakan hati’. Caranya, si anak gadis menulis surat kepada kedua orang tuanya yang menyatakan bahwa dia benar telah berangkat untuk berkeluarga dengan menyebutkan nama si laki-laki dan alamat yang ditujunya.
(3). Meninggalkan tanda pandok-dok ‘pemberitahuan’. Tanda ini berupa uang, kain sarung, dan surat.yang bersatu secara utuh serta diletakkan di kamar tidur si gadis. Kata dok berarti ‘kata’. Jadi, pandok-dok mempunyai arti ‘berkata-kata; pemberitahuan’.

Barang-barang tersebut di atas sebagai tanda untuk memberitahukan orang tua bahwa si gadis sudah pergi marlojong ‘kawin lari’. Orang tua si gadis dengan melihat tanda yang ada di kamar tidur, telah mengetahui bahwa anak gadisnya pergi mambaen rohana ‘menurutkan kata hatinya’. Lalu ketika mau marlojong itu, si anak gadis harus bersiap-siap membawa teman. Fungsi temannya ini adalah sebagai pengawal yang disebut dengan pandongani ‘penemani; orang yang menjadi teman si anak gadis ketika marlojong’.

Penutup

Perkawinan marlojong sebenarnya merupakan perkawinan yang kurang disukai orang-orang Angkola. Namun sebab keadaan yang memaksa dan tidak bisa terhindarkan,perkawinan marlojong ini pun banyak pula sekarang ini dipergunakan oleh muda-mudi di Angkola.

Jadi, marlojong ‘kawin lari’ ini sebenarnya merupakan jalan pintas terakhir yang dilakukan seorang pemuda Angkola karena adanya hambatan serta rintangan yang terjadi, terutama karena kekurangsetujuan dari pihak orang tua dan keluarga si anak gadis terhadap si pemuda tersebut.

July 19, 2008 at 6:54 pm Leave a comment


Archives

Top Clicks

  • None

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.